Manusia diberi kelebihan daripada makhluk lain yaitu akal. Ketika diberitahu tuhanmu Allah, ketika kita diperintah sembahlah Allah, maka sudah pasti manusia yang dianugerahkan hati dan akal akan berpikir/bertanya kenapa yang harus aku sembah Allah? Bukan yang lain. Lalu Siapa Allah?
Perjalanan Nabi Ibrahim AS dalam mencari Tuhan dimulai ketika ia melihat bintang yang bercahaya. Awalnya, ia sempat berpikir itu adalah Tuhan namun ketika bintang tersebut menghilang, Nabi Ibrahim AS lalu menghempaskan pikirannya. Begitu pula dengan bulan yang sempat Nabi Ibrahim AS anggap sebagai Tuhan. Ketika pagi datang, bulan menghilang sehingga Nabi Ibrahim AS berpikir tidak mungkin itu adalah Tuhan. Lalu, sang nabi melihat matahari dan sempat meyakini itu adalah Tuhan. Namun, ia berhenti meyakini itu ketika matahari terbenam dan malam tiba.
Kembali hati kita bertanya: Lalu Siapa yang harus kita anggap tuhan? Kalau bukan bintang, bukan bulan, bukan matahari. Kita pasti bingung kecuali jawabannya dari pemberi pentunjuk lewat wahyuNya.
Nabi Ibrahim AS menjelaskan siapa Tuhan yang sebenarnya kepada kaumnya: Pertama Pencipta dan Penuntun: Allah yang menciptakan manusia dan memberi petunjuk jalan hidup (Ayat 78). Kedua Pemberi Makan dan Minum: Allah yang memberi makan dan minum setiap hari (Ayat 79).Ketiga , Maha Penyembuh: Allah yang menyembuhkan saat manusia sakit (Ayat 80). Kempat; Pengatur Hidup dan Mati: Allah yang mematikan dan kemudian menghidupkan kembali (Ayat 81). Kelima Pengampun Dosa: Allah yang diharapkan mengampuni kesalahan pada hari kiamat (Ayat 82)
Dalam Surat Asy-Syu'ara Ayat 78–82, Nabi Ibrahim AS menjelaskan siapa Tuhan yang sebenarnya; yang tidak mampu diberikan tuhan-tuhan yang lain selain Allah yaitu sebagai pencipta, pemberi petunjuk, pemberi rejeki (makan dan minum), yang memberrikan sakit sekaligus yang bisa menyembuhkan, yang memberikan hidup, mati lalu membangkitkan kembali dan yang kuasa menjadikan pengharapan memberikan pengampunan.