Sepuluh Kapanewon mengikuti program Sistem Pendataan Desa Terpadu Cinta Statistik (Sipedet Cantik) pada tahun 2025. Kegiatan tersebut digawangi oleh Bidang Informasi Komunikasi Publik dan Statistik Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabuapaten Kulon Progo. Kapanewon tersebut antara lain Temon, Wates, Panjatan, Galur, Lendah, Sentolo, Girimulyo, Nanggulan, Samigaluh dan Kalibawang.
Rapat Koordinasi (Rakor) persiapan program tersebut dilaksanakan di Ruang Sermo Komplek Pemda Kulon Progo, Senin (17/3/25). Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kulon Progo Agung Kurniawan, S.IP, M.Si. mengungkapkan Sipedet Cantik merupakan program dari pemerintah provinsi melalui Paniradya Program Keistimewaan DIY. Dengan harapan data yang diperoleh dapat digunakan untuk kalurahan.
“Mohon bantuan dari Bapak/Ibu Lurah untuk dapat mengawal dan menjalankan program Sipedet Cantik ini, data ini nantinya sangat bermanfaat bagi kalurahan untuk menjalankan program-program sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat,”tutur Agung.
Dalam paparannya, Sekretaris Dinas Kominfo R. Trusta Hendraswara, S.S.,M.Si mengatakan untuk tahun 2025 merupakan tahapan kedua Sipedet Cantik. Di Tahun sebelumnya telah dilaksanakan untuk dua kapanewon. Tujuan dari program ini untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan data yang akurat, jelasnya.
“Harapannya dari kalurahan nantinya membantu untuk menyiapkan tim pendata dengan total 739 petugas yang terdiri dari Petugas Pemeriksa Lapangan (PML) dan Petugas Pendataan Lapangan (PPL). Jika tim pendata sudah siap nantinya akan kita selenggarakan Training Of Trainer (TOT). Pelaksanaan pendataan kurang lebih akan dilaksanakan selama tiga bulan,”ujar Sekdin.
Teknik pelaksanaan, lanjut Trusta, dengan melaksanakan sensus wawancara langsung menggunakan pendukung handphone android versi 10 untuk satu PML memverifikasi 2 PPL.
Kepala BPS Kulon Progo Drs. Sumarwiyanto mengungkapkan , pelatihan atau TOT akan dilaksanakan sejumlah 30 kelas dibagi 2 gelombang.”Setelah pelatihan, PML diharapkan ikut pendataan di lapangan karena pasti akan ada kendala dan kesulitan. Manfaat kegiatan ini bisa digunakan sebagai basis data untuk pembangunan desa,” terangnya.